Secercah Kisah Tentang Buya Syafii Maarif Menurut Din Syamsuddin

- 28 Mei 2022, 06:41 WIB
Secercah Kisah Tentang Buya Syafii Maarif Menurut Din Syamsuddin
Secercah Kisah Tentang Buya Syafii Maarif Menurut Din Syamsuddin /Muhammadiyah.or.id/

JURNAL SUMBAWA - Berikut ini Secercah kisah tentang Buya Syafii Maarif menurut Din Syamsuddin.

Buya Syafii Maarif meninggal dunia pukul 10.15 WIB di RS PKU Muhammadiyah Gamping. Berpulangnya beliau Bukan hanya kehilangan bagi Keluarga Besar Muhammadiyah, tapi juga Bangsa Indonesia dan juga umat Islam.

Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2005-2015 Din Syamsuddin mengungkapkan bahwa almarhum adalah seorang sosok ulama, cendekiawan, dan pujangga yang telah banyak melahirkan pikiran bernas dan bermanfaat bagi kehidupan bangsa.

Menurut Din Syamsuddin, pikiran-pikiran Buya Syafii Maarif reflektif, kritis dan menggelitik. “Hal demikian bertolak dari batin yang resah dan gelisah terhadap realitas kehidupan umat Islam/Bangsa Indonesia yang antara idealitas dan realitas dinilainya masih senjang dan berjarak,” kata Din Syamsuddin dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 27 Mei 2022.

Din Syamsuddin mengatakan, sebagai pengejawantahannya lahirlah kritik-kritik atau tepatnya otokritik yang keras bahkan "pedas", yang oleh sebagian dirasa tidak nyaman didengar.

Ia menuturkan, selama bergaul bersama Buya Syafii Maarif khususnya sebagai wakilnya di PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin menyaksikan almarhum sejatinya adalah seorang unik, perenung, dan pegaul yang simpatik.

“Pikiran-pikiran kritis-reflektifnya lahir dari obsesi tinggi akan kemajuan umat, kemajuan bangsa,” imbuhnya.

“Dia sampaikan dengan ketulusan tanpa pamrih (bahkan terkesan nyaris "lugu politik"), karena baginya keyakinan akan kebenaran harus disampaikan demi kebenaran itu sendiri,” sambungnya.

Dan, bagi Buya Syafii Maarif otokritik perlu berdaya kejut atau shock teraphy, karena hanya dengan demikian kaum yang sedang tidur pulas akan terbangunkan.

Sebagian pikiran Buya Syafii Maarif, kata dia, sudah terlembaga dalam wawasan keMuhammadiyahan dan menjelma dalam Gerakan Pencerahan Muhammadiyah.

“Sebagian yang lain (yang juga menjadi pikiran banyak tokoh Muhammadiyah) masih harus terus diperjuangkan, yakni menjadikan Muhammadiyah sebagai Gerakan Ilmu,” Katanya.

Dalam hal ini, lanjutnya, Muhammadiyah memang sudah melampaui Gerakan Ilmu karena praksisme yang diamalkannya juga berbasis ilmu walau bersifat sederhana.

Namun, untuk menjadi Gerakan Peradaban untuk terwujudnya peradaban utama (high civilization) basis keilmuan Gerakan Muhammadiyah masih perlu didalam-tinggikan dalam suatu kerangka ontologis dan epistemologis yang kuat.

“Di sinilah maqam tinggi pikiran Almarhum Buya Syafii Maarif. Semoga kegelisahan itu dibawanya ke alam barzakh dan kita semua masih dapat berdialog secara ruhiyah untuk menjadikan perjuangan mewujudkan pikiran-pikiran Almarhum sebagai amanah bagi kita dan amal jariah bagi Jiwa Yang Tengah Pergi ke Haribaan Sang Robbi,” jelasnya.***

Editor: Jahruddin


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah